Kamis, 08 November 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Sekolah Idaman, Semangat Dambaan
(Oleh Intan)
Di
sebuah desa sangat jauh dari kebisingan kota, dimana pendidikan mungkin hanya
nomor sembilan puluh sembilan dari seratus pilihan dimana keseratus adalah pilihan
untuk mati, dirindukan sekolah bertaraf idaman.
Aku adalah anak dari kedua orang tua yang
sudah meninggal. Aku tinggal dengan kakek sekarang. Dia satu-satunya sisa garis
keturunan darah yang aku punya. Kakek bernama Wandi dan namaku Piyan.
Sudah
tiga tahun aku sekolah di SD Harapan. Kondisi sekolahku sangat sederhana. Hanya ada empat kelas
dalam satu atap. Kelas pertama untuk kelas tiga dan empat, masing-masing
tingkatan kelas dipisah dengan pembatas dinding dengan tinggi dua dua meter
yang terbuat dari papan. Begitu juga dengan kelas lima dan enam. Sedangkan
untuk kelas satu dan dua tak ada. Dikarenakan kurangnya tenaga pengajar di
sekolah. Bagi kelas satu dan dua, mereka harus pergi ke rumah Pak Dian atau Pak
Muhtar untuk mendapat pelajaran. Kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh satu
guru untuk dua kelas sekaligus. Maka tidak heran, jika guru yang mengajar harus
sering bolak balik memperhatikan siswa yang beda tingkatan kelas. Dan setiap
kelas rata-rata berkisar tidak lebih dari lima belas siswa.
Dinding dan atap terbuat dari papan
dan kayu. Meja dan tempat duduk kami terbuat dari papan yang dibuat memanjang.
Papan tulis hitam berukuran 1x2 meter menggantung di depan untuk dua kelas
dengan pemisah garis lurus yang digambarkan oleh pak guru. Sekolahku hanya
berlantaikan tanah. Kalau hujan turun, airnya akan masuk ke dalam kelasku
hingga menjadi becek. Jika hujan deras turun, kegiatan belajar mengajar sudah
otomatis diliburkan, karena tak ada tempat sama sekali untuk menunjang kegiatan
tersebut. Hujan biasa saja sudah becek, apalagi hujan deras dengan tambahan
atap kayu yang kini sudah banyak bolongnya, bahkan terlihat hampir rapuh. Saat
hujan, tubuh kami kedinginan karena hawa-hawa dingin dengan mudah masuk ke
dalam ruang kelas yang tak berpintu. Tempat dudukku tepat sekali dibawah atap
yang bolong. Jika hujan sudah turun, maka akulah yang pertama kali kebasahan
bersamaan dengan bukuku. Begitupun kejadiannya jika panas matahari tengah
menyengat bumi.
Hanya
ada dua guru di SD Harapan, Pak Dian memegang kelas lima dan enam, sedangkan
kelas tiga dan empat oleh Pak Muhtar.
Aku
pulang di bonceng Pak Dian. Hampir setiap hari aku di bonceng Pak Dian. Aku
menangis dalam hati melihat sembilu keadaan kedua guruku. Mereka mengajar
sampai siang hari, sudah lelah mengajar masih harus mencari nafkah sendiri di
ujung pelosok daerah Kalimantan Timur, Kabupaten Nunukan Kecamatan Sebuku,
kampung yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Aksen-aksen nada
bicara kami pun mirip logat Malaysia. Tak ada yang mau jadi guru. Tentu saja
tidak mau. Karena guru di kampung ini tidak dibayar. Hanya orang-orang yang
dimampukan hatinya saja yang melihat dan tergerak untuk ikut mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Banyak dari kami lebih memilih untuk bekerja, berwirausaha dan kemudian menetap
bahkan menjadi warga negara Malaysia. Tentu karena Malaysia memiliki banyak
sarana kehidupan yang seratus kali lebih layak tidak seperti disini.
Bu Intan, guru baru yang ditugaskan
di kecamatan kami, akan mengajar kelas lima adan enam. Nanti akan ada kelas
satu dan dua di siang hari, Pak Dian lah orang yang akan mengajar mereka.
Berlalu
waktu berputar, aku sangat senang sekali diajar oleh Ibu Intan. Dia guru yang
sangat baik, aku bisa melihat hatinya yang baik itu. Ibu tidak sungkan untuk
melakukan banyak hal dengan kami dan warga.
Kurangnya
sarana prasarana transportasi serta komunikasi, tidak adanya listrik, lemahnya
SDM yang diakibatkan karena minimnya pendidikan yang diperoleh masyarakat,
serta keadaan sekolah yang sangat sangat miris membuat Bu Intan mencoba
mengkaji kehidupan daerah perbatasan yang tidak menguntungkan. Ibu sering
bercerita bahwa kami yang tinggal di sini sangat hebat, mampu bertahan dengan
status kewarganegaraan yang masih Indonesia, bukan pergi ke Malaysia.
Suatu hari, Bu Intan pernah bertanya
kepadaku tentang cita-citaku. Aku jawab ingin menjadi seperti Bu Intan dan Pak
Dian. Menjadi guru. Membuat kampung menjadi maju. Semua anak sekolah dengan sekolah
yang bagus. Ruang kelas luas, papan tulis lebar, tempat duduk dan meja yang
enak, bagus dan dicat, atapnya pakai genteng biar tidak bolong, lantainya
keramik, ada jam, jendela, pintu dan toiletnya. Aku tak mau ada libur hanya
karna hujan yang buat becek dan basah kuyup siswa. Bu Intan menangis saat
mendengar rentetan celotehanku. Aku tersenyum dan langsung kupeluk Bu Intan. Ternyata
aku adalah siswa terakhir yang ditanya oleh ibu mengenai cita-cita dan sekolah
idaman seperti apa yang diinginkan siswa. Bu Intan setiap hari pulang dengan
siswa yang berbeda. Mengantar setiap siswa sampai rumah dan sepanjang
perjalanan itulah, Bu Intan mencoba mendengarkan semua keluhan siswanya, bagaimana
ilustrasi imajinasi mereka mengenai sekolah idaman.
Tiga
hari menjelang lomba, aku semakin deg-degan namun bersemangat. Aku yang
akhirnya ditakdirkan mewakili SD Harapan ke lomba mengarang dan membaca puisi
tingkat SD berlevel nasional yang di adakan di Bandung.
Sudah
dimulai lomba sejak sepuluh menit yang lalu. Aku mencoba untuk tenang. Dan kini
giliranku untuk tampil sebagai perwakilan SD Harapan dari Kalimantan Timur.
Sekolahku … Karya Piyan
SD Harapan
Sekolah Dasar di Kalimantan Timur
Satu gedung untuk enam kelas
Satu ruang untuk dua kelas
Ada Pak Dian, Pak
Muhtar dan Bu Intan
Ada hari yang
terlukis oleh senyuman
Aku selalu
semangat tak pernah surut
Aku tau meski sering dihasut
Papan dan kayu berdiri
Meja papan yang menanti
Atap bolong yang mencuri
Papan tulis hitam menghiasi
Inilah sekolahku
yang kuhargai
Engkau kusayangi
Bagunan megah tak
berarti
Karena sekolah
untuk mengukir prestasi
Aku
langsung memeluk Bu Intan erat ditengah riuh hiruk pikuk suasana dalam gedung
yang meriah dengan irama tepuk tangan orang-orang saat terdengar sahutan bahwa “Piyan
dari SD Harapan dengan puisinya yang berjudul Sekolahku sebagai juara pertama.”
Ibu menyuruhku untuk segera naik ke atas panggung. Aku pun menuruti perintah Bu
Intan.
“Selamat yah. Belajar yang lebih rajin.” Salam
dari seorang pria paruh baya yang merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia memberikan hadiah berupa piala penghargaan serta uang tunai sebesar
tujuh juta rupiah.
Setelah
selesai menerima hadiah, aku langsung turun dan bertanya pada Bu Intan. Ada
keinginan yang terlintas cepat dari benakku saat aku menerima hadiah.
“Bu,
ape orang itu keh yang memberikan hadieh ni?”
“Iya.
Ada apa memangnya Piyan?”
Tanpa
banyak tanya lagi aku langsung berlari mengejar bapak itu.
“Pak,
ape bapak keh yang memberikan hadieh ni? Aku tak mau ni. Aku ingin hadiahku
dituker saje dengan perbaikan sekolah. Aku tak mau ni semue. Aku hanya ingin
sekolahku diperbaiki.” Suasana jadi berubah sedikit kacau. Bu Intan langsung
menatapku untuk menjauh dari Pak Menteri yang dikawal ketat. Aku tetap tak mau menjauh
sebelum bapak itu menjawabnya. Namun, pengawalnya segera bertindak setelah
melihat kelakuanku tadi. Akhirnya aku dan Bu Intan menjauh dari Pak Menteri.
“Bu,
aku tak mau ni. Aku mau hadiehku diganti perbaikan sekoleh.” Aku menangis. Aku
ingin keinginanku ada yang menyelamatkannya saat ini juga.
“Piyan,
tidak mungkin hadiah ini bisa ditukar. Itu Pak Menteri. Orang yang hebat di
negeri ini. Mana mau dia akan mendengar keinginan kita. Beliau sibuk.”
“Kalau
begitu cepatlah kejar sebelum Pak Menteri pergi Bu. Kapen lagi kita kan bertemu
dengannye. Bukankah Ibu nak mewujudkan impian aku dan kawan-kawan keh?” Pintaku
lirih.
Bu
Intan menatapku sayu. Ibu memang ingin sekali mewujudkan sekolah idaman untuk
SD Harapan. Akhirnya, setelah berpikir beberapa menit, Bu Intan langsung pergi
menyusul Pak Menteri meninggalkanku. Namun, aku mengejarnya.
Kulihat
Bu Intan mencoba masuk ke pengawalan ketat Pak Menteri. Bu Intan mencoba untuk
meraih tangan Pak Menteri. Dengan sedikit paksaan dan tindakan keras, Ibu
berhasil bertatapan mata dengan Pak Menteri.
“Pak,
mohon beri saya kesempatan untuk berbicara. Saya adalah guru di SD Harapan.
Tolong wujudkan impian murid saya Piyan tadi Pak. Dia ingin sekali sekolahnya
dibangun agar lebih layak. Bapak tidak tau keadaan sekolah kami yang
memprihatinkan. Bahkan lingkungan kami yang berada di pelosok Kalimantan, tak
ada yang memperhatikan.”
Bu
Intan menangis. Kakinya lemas. Ibu tersungkur, berdiri dengan lututnya. Pak
menteri yang melihat ini lalu mencoba menenangkan keadaan dan Bu Intan serta
aku.
“Jangan
menangis lagi. Ayo bangun Bu. Memangnya dimana SD tempat ibu mengajar?”
“Kalimantan
Timur Kabupaten Nunukan Kecamatan Sebuku. Wilayah tersebut merupakan wilayah
perbatasan antara Indonesia-Malaysia, Pak.”
“Maafkan
saya dan kami semua yang telah menelantarkan kalian. Ibu dan adik tidak usah
menukar hadiah ini. ini adalah hadiah hasil perjuangan kalian. Kalian sampai
kesini pasti penuh usaha, usaha kalian pantas untuk dibayar lebih. Saya beserta
jajaran akan segera mengunjungi SD dan kampung tersebut untuk kemudian mengadakan
peronavasian di daerah kalian.”
Wajahku langsung mengukir senyuman
lebar mengembang, begitupun Bu Intan. Aku langsung berpelukan dengan Bu Intan.
Aku menangis mengharu biru begitu juga guru kesayanganku. Terima kasih Tuhan.
Kau kabulkan doa, semangat dan perjuangan kami semua, orang-orang Kalimantan
Timur. Akhirnya, akan ada sekolah idaman dengan semangat belajar dambaan.
Kampus
Ridho Ibu
(Dwi Novi Antari)
(Dwi Novi Antari)
Rose
is rose wherever it grows. Mawar adalah mawar dimanapun ia tumbuh. Meski dalam
baris ribuan kaktus digurun pasir, ia akan tetap disebut mawar. Bahkan jika ia
tumbuh dalam rawa lumpur di hutan paling dalam, ia juga tetap dikenali sebagai
mawar walaupun diantara teratai. Di taman dengan bermilyaran jenis bunga , tak
kan ada yang salah menyebutnya, ia akan dan terus menjadi mawar. Begitu yang
ibuku tuturkan dan sampai sekarang belum juga kutemui maksudnya.
*****
Aku
masih menatapi layar tipis berukuran 14 inchi, tanpa cahaya sedikitpun dari
luaran ruang. Gelap bercampur pekat. Huruf-huruf yang tertulis pada laptop
dihadapanku begitu nampak jelas, terlalu jelas untuk sekedar menganggu
pikiranku. Seingatku, sudah sejak kemarin aku mengurunggi diri disini. Dihadapan
tulisan ini, aku seperti tertimpa beban atau malah bencana, aku sudah tak
berdaya. Sebaris tulisan dari sebuah situs resmi dengan pengunjung terbanyak
minggu ini, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri. Ya, pengumuman
SNMPTN sudah dipublikasikan di internet sejak kemarin malam, dan aku adalah
satu dari berpuluh ribu pelajar yang kecewa.
“Selamat,
Anda diterima di Jurusan PGSD, Universitas Pendidikan Indonesia”
Kalimat
yang meruntuhkan mimpiku, mimpi yang kurancang apik sejak dua tahun lalu. Tulisan
yang membuat seluruh tubuhku kaku. Kata-kata yang membumi hanguskan harapan
masa depanku.
“Zae,
kenapa belum juga keluar kamar? Ibu memanggiliku dari balik pintu.
Lalu
hening dan senyap. Semuanya kembali pekat ketika kututup kedua mataku.
Bayang-bayang sebuah lambang terus saja datang, tak pernah pergi. Aku memang
menginginkannya, sangat dan terlalu ingin memiliknya. Seekor gajah melambai-lampai
padaku, kemudian menghilang menjadi sebuah titik. Ah, ITB tunggu aku!
“Bagaimana
pengumumannya, Zae?” pertanyaan ibu membuatku sesak nafas tiba-tiba.
“Lolos
Bu” jawabku datar.
“Alhamdulillah,
pilihan yang keberapa Zae?” pertanyaan ibu semakin membuatku tercekik.
“Terakhir
Bu” jawabku pasrah.
“Ya
Allah, Allahu Akbar, kamu jadi guru Zae, Syukur nak, Alhamdulillah”
Ibu
tiba-tiba bersujud di lantai, lalu memelukku dan menciumiku dengan tangis
meluap-luap. Hangat peluknya, tapi panas rasa dalam diriku. Saat ini sudah
kacau semua pikiranku, ibu begitu bersyukur juga girang tak terkira, sedang aku
hampir mati karena ini bukan pilihanku, bukan mauku, bukan aku yang
menginginkannya. Ibu, ya ibu yang menyuruhku kuliah di Pendidikan, di
Universitas Pendidikan nomor satu di Negri ini. Bu, bisakah ibu saja yang
kuliah di UPI sungguh bu aku masih mengimpikan ITB, ucapku dalam hati. Tak
sanggup kuutarakan apa yang menganjal padaku, ibu terlalu bahagia dan aku tak tega menyakiti inginnya.
“Maukah
kau mendengar cerita dibalik namamu Zae?” Tanya ibu padaku.
“Tentu
bu,” jawabku tak berselera.
Kemudian
ia menuturkan soal arti namaku, dan aku sangat terperanjat mengetahui kebenaran
makna dibalik namaku sendiri, aku salah menafsiri namaku. Muhammad Zaenal B,
dengan nama akhir yang disingkat. Tidak umum memang, biasanya nama Muhammad lah
yang akan disingkat jika namanya terlalu panjang. Ayah menginginkanku menjadi
pribadi seperti Muhammad, nabi umat islam, juga guru peradaban dunia. Lalu
singkatan B untuk Bakri, kufikir itu berarti orangtuaku menginginkanku menjadi
orang sukses seperti Aburizal Bakri, Bakri yang berarti nama akhir seorang
pengusaha sukses Indonesia. Sedikit mirip juga antara Zaenal dan Aburizal,
sama-sama berunsur “Za”.
Runtuh
sudah semua definisi nama yang kutafsir sendiri, Bakri yang orangtuaku maksud
adalah Oemar Bakri, sosok guru ternama di Indonesia, tokoh idola Ayah,
lagi-lagi berarti guru. Semakin sakit saja hatiku. Cukuplah ini menyadarkanku
bahwa sejauh apapun harapanku dan setinggi apapun aku bermimpi, aku akan
kembali pada takdir yang terpatri dalam namaku, melekat pada diriku sendiri.
Bukan hanya satu, tapi dua dari tiga penyusun namaku adalah bermakna sosok
guru. Aku mengutuk diri dalam hening diam.
Hari-hari
berlalu tanpa ada hasrat yang mengebu, kubiarkan diri mengikuti irama waktu
tanpa berdaya melawannya. Hampir kuinsyafi diri dengan pikiran untuk tidak
kuliah kecuali di ITB, namun kuingat juga tak mungkin aku mementingkan diriku
sendiri sedang ibu begitu besar mengharapkanku.
Ibu
meyuruhku segera berangkat mengurus semua keperluan akademik yang dibutuhkan
Universitas, dengan tanpa melawan kuturuti semua pintanya. Menyusuri daerah
Bandung yang berselimut hawa dingin masih saja kurasa diriku dalam suhu panas
dibagian hati. Memasuki deret Jalan Setia Budi pandanganku seperti kabur, jika
saja kutemui nama daerah ini adalah Jatinangor betapa bahagianya aku.
“Selamat
siang, ada yang bisa dibantu kang? Ruang BAAK ada dibelakang masjid Al-Furqon
didepan Gedung Pasca Sarjana, sebelah sana,” seorang satpam digerbang dengan
ramah menjelaskan, mungkin ia paham aku adalah mahasiswa baru.
“Terimakasih”
ucapku dengan senyum tertahan.
Disamping kanan kantor satpam terdapat tembok nama
Universitas Pendidikan Indonesia lengkap dengan lambang berwarna hitam, merah
dan lingkaran kecil kuning. Dibaris depan Universitas terdapat gedung rektorat
yang menjadi icon UPI, lalu berderet
gedung tinggi lainnya, juga pepohonannya yang makin membuat suhunya semakin
terasa dingin, hatiku masih belum juga terpaut.
Lalu
digaris paling depan adalah sebuah gedung dengan warna paling kontras diantara
yang lainnya, sebuah masjid yang menarik hatiku. Dengan segenap keyakinan
kupaksakan melangkah. Dengan samar, terbaca sebuah nama “Al-Furqon”. Pembeda,
tepat sekali. Gedung paling berbeda memang, tak salah apa yang sempat
kupikirkan.
Setelah
bersujud didalam masjid, tanpa sadar dipojok baris terdepan shaff aku sudah
sesenggukan dalam tangis. Hatiku terasa lara sekali, kenapa aku ditakdirkan ada
ditempat ini, kenapa tak pula dikabulkan doa-doaku disela tahajjud, aku
menunduk dalam-dalam. Semua beban seperti tertumpu, reruntuhan mimpi yang
kupunya terasa berat. Sesak.
“Nak,
kau baik-baik saja” seseorang memegang pundakku.
Dengan
cepat kuhapusi rintih halus dimataku. Kemudian kutatap kedua mata laki-laki
dihadapanku. Aku yang menurut ibuku, bujang paling penurut dan hemat bicara ini
entah bagaimana dengan begitu mudahnya menuturkan masalah yang kupunya kepada
orang yang sama sekali tak kukenal sebelumnya. Semua yang menganjal dihatiku
kuungkapkan, tentang kampus impian yang berganti jadi kampus yang tak
diinginkan, tentang keinginan ibu, tentang diriku yang masih belum menemukan
gairah semangat.
“Pertama,
syukurilah apa yang kau dapati ini nak, lebih dari sekedar rahasia apa yang ada dibalik semuanya” ucapnya pelan
menenangkanku.
“Jika
menurutmu nama besar sebuah instansi adalah sesuatu yang sangat penting , maka
ingatlah nak, hakekat ilmu lebih dari sekedar itu, bukan dimana, apa atau kapan
namun bagaimanalah yang lebih utama. Didalam penjara sekalipun kau masih bisa
mendapatkan ilmu, para tukang becak pun bisa kau jadikan guru. Lebih dari
sekedar itu nak, yang terpenting adalah kau dengan ilmu yang kau dapat itu,
bermanfaatkah bagi banyak orang atau hanya untuk arsip pribadimu saja.” Ia
mengambil jeda untuk mengambil nafas kembali.
“Perbaikilah
niatmu nak, lapangkan keiklasanmu, dapati ridho ibumu yang sudah begitu jelas
ada dihadapmu, jangan berfokus pada keharusan menjadi sukses, siapkanlah dirimu
untuk jadi yang paling bermanfaat,” ia meraih kedua tanganku,
mengenggamnya lalu menyalimi dengan
kuat.
“Segeralah
registrasi, disini bukan tempat yang salah, percayalah nak.”
Dengan
patuhnya, aku lekas bangkit dan berjalan menuju ke pintu utama dilantai dasar
masjid, mencari-cari sandal yang tadi kupakai untuk segera ke gedung BAAK. Aku
melupakan satu hal, belum juga kuketahui siapa laki-laki yang memberiku
pencerahan itu. Kembali aku menaiki tangga masjid di kampus UPI ini, menyusuri
setiap sudut ditiap lantai. Melempari pandangan kesekitar, berharap masih bisa
menemukan sosok laki-laki berkemeja putih itu. Tak ada yang mengenakan warna putih
disini, kemana bapak itu pergi?
Dengan
sedikit ingatan yang tersisa, kupaksakan mengaisi ucapan bapak dalam masjid
tadi, tentang hakekat ilmu sebenarnya. ITB, haruskah benar-benar kulupakan, oh
kampus impianku. Kutarik nafas panjang selama yang kubisa lalu menghembuskannya
perlahan, berulang kulakukan. Terpatris sebuah niat kini, dengan langkah gontai
kuhampiri ibu dan segera bersimpuh dibawah kakinya, menciumi kedua tangannya.
“Bu,
ridhoi jalanku... Bu, doakan agar aku menjadi orang yang bermanfaat, Bu...”
ucapku berlinangan airmata, meluluhkan hatiku yang semula membeku.
Perlahan
ibu mengusapi rambutku, menghembuskan semilir doa diatas kepalaku, nafasnya
sejuk menentramkan.
“Bu,
aku ingin ridhomu. Bu, hanya itu yang kumau, hanya ridhomu. Ridhoi aku, Bu...”
Ucapku lagi dengan sesenggukan.
Runtuhlah
kini kampus impian itu, bangunan ITB sudah runtuh diimpianku. Mungkin memang
ada suatu hal yang membuatnya tidak diperuntukkan kepadaku. Maka datanglah
kesadaran itu, bahwa kampus impian bukan hanya berarti itu kampus yang
diimpi-impikan, yang didambakan, yang diinginkan. Kampus impian sekarang bagiku
adalah kampus merangkai mimpi baru, kampus dimana akan kudapati ridho ibuku,
kampus yang akan kutangkapi banyak ilmu tak peduli persoal apapun. Kuniati diri
menjadi orang yang bermanfaat dan bukankah guru adalah insan paling utama dalam
hal manfaat. Ayah, Ibu terimakasih untuk nama yang kalian sematkan padaku.
Muhammad Zaenal Bakri.
Haru
dalam hikmad yang memenuhi hati, kulangkahkan kaki dengan ikhlas di sebuah pelatar
gedung di kampus impian baruku,UPI. Diantara beberapa tanaman yang tertata pada
taman pelatar gedung ini, pandanganku tersita pada sebuah bunga berkelopak
merah merona. Mawar itu, mawar yang ibu ceritakan. Aku diam dan mentafakuri
yang ibu maksudkan soal bunga mawar. Mawar dimanapun ia berada?. Ah, aku hanya
bisa tersenyum, paham maksudnya sekarang. Ibu benar, mawar akan tetap jadi
mawar dimanapun ia berada. Jangan berfokus pada tempat yang diinjak, tapi titik
beratkan untuk berbenah menunjukkan diri.
*teruntuk
mahasiswa yang memahabesarkan nama sebuah instansi, mari pahami hakekat ilmu.
Ayahku, Motivatorku
(Oleh
Melly)
Hari
ini matahari enggan menunjukkan wajahnya, tetes demi tetes air pun akhir-akhir
ini tak nampak. Suasana seperti ini semakin membuat diriku mencekam sembari
mengingat ayah. Ku lihat langit tampak mendung, namun air masih enggan turun ke
bumi. Seperti itulah perasaanku kini, setelah kepergian ayah seminggu yang
lalu.
Sedangkan ibu masih terlihat tegar,
walau begitu ku tahu ibu sering menangisi kepergian ayah. Setiap malam, tak
jarang ku melihat ibu menangis dikamarnya.
Malam ini begitu hening sehingga tak
sedikitpun aku meragukan suasana ini untuk menumpahkan segala luapan emosi dan
tangisanku. Lalu aku langsung beranjak menuju ranjang tidurku. Ranjang rotan
inilah yang selalu menjadi tempat kedua atau bahkan terakhir aku mencurahkan
apa yang selalu menjadi masalahku setelah ayah. Banyak sekali pernak-pernik
buatan ayah dikamarku sehingga membuatku sulit sekali melepas kenangan
tentangnya.
Biasanya setelah aku puas mengingat
ayah, ku atur posisi tidurku. Sering kali aku menatap sawang-sawang dilangit
kamarku. Yah.. sawang bukan plafon. Rumah ini terlalu tua untuk ditempati, yang
ada dilangit kamarku hanya sawang-sawang yang kian hari kian banyak. Aku selalu
berfikir sebelum tidur sambil menatap sawang-sawang dikamarku hingga akhirnya
aku pun terlelap.
“Nak bangun, ini giliran kamu untuk
menjaga dan merawat ibumu, bahagiakan ibumu.”
Aku terbangun, “Astagfirullah,
ternyata mimpi. Mungkin karena ku terlalu memikirkan ayah.”(bisik hatiku),
dengan mata setengah sadar aku beranjak dari ranjangku keluar kamar untuk
mengambil segelas air didapur. Saat ingin kembali ke kamar, aku tidak sengaja
melihat ibu masih saja menangisi dan menatap hampa foto ayah. Ingin sekali aku
mendekatinya, tetapi ku ingat tepat dua hari yang lalu juga, aku melihat ibu
yang sedang menangis seorang diri dikamar, lalu aku mendekatinya berharap rasa
duka itu berkurang, namun bukannya membuat ibu tenang, aku malah semakin
membuatnya sedih dan aku tak ingin hal itu terulang kembali. Langsung aku
paksakan kakiku untuk melangkah ke kamarku.
Sesampainya dikamar, handphoneku
berdering. Aku fikir, aku akan mendapatkan kata-kata pendukung kesedihanku
seperti belasukawan atau bahkan aku turut berduka cita tetapi ternyata tidak,
aku pun bersyukur sehingga tak ada lagi tangisan yang harus ku keluarkan untuk
itu.
Pengingat : lusa ujian SNMPTN
dimulai. Semangat Liana J
Pengingat, yah aku baru teringat
jika dua hari lagi aku akan mengikuti ujian SNMPTN. Pengingat itu aku buat
sehari sebelum akhirnya ayah meninggalkanku selama-lamanya. Teringat lagi
tentangnya, air mata ini pun terpaksa menetes kembali.
“Ayah, aku ingin sekali kuliah di
PTN tahun ini.”
“Iya Nak. Akan Ayah usahakan hal
itu, jangan khawatir bahkan kalau bisa ayah lembur supaya ayah mendapatkan
banyak uang untuk membiayai kuliah kamu, Nak.”
Tetesan mulai mengalir ketika aku
mengingat satu-persatu memori itu. Ayah menuju kamarku, saat itu aku sedang
menangis, aku takut jika aku tidak bisa membuat orangtuaku bahagia karena
penyakit gagal ginjal yang aku derita semenjak SMA kondisinya semakin parah.
Namun Ayah selalu membuat motivasi-motivasi besar dalam hidupku sampai aku pun
seringkali melupakan penyakitku itu.
“Buatlah dua impian dalam selembar
kertas ini, lalu baca dan simpan didalam botol kecil, tutup dan bukalah
selembar kertas ini saat kamu mengingatnya. Yakinlah ketika kamu ingat kembali,
salah satu atau bahkan semua keinginanmu itu akan terwujud.”tuturnya
Mulai
ku rajut dua impian itu didalam pikiranku. Yakin, yakin, dan yakin merupakan
salah satu motivasi yang selalu ayah utarakan kepadaku terlebih ketika ku
sedang terjebak dalam berbagai masalah.
Bismillah, itulah awal kata yang
terlontar dari bibirku. Sejenak ku pejamkan mata untuk mengingat dan meyakinkan
diri seolah-olah dua impian ini bukanlah suatu pengharapan melainkan suatu
penghargaan yang kelak akan ku dapatkan.
Tuhan, aku ingin sekali
membahagiakan kedua orangtuaku atau bahkan jika kelak usiaku lebih pendek dari
ayah dan ibuku. Sampai saat ini aku bersyukur organ ini masih ada untukku,
walau sebenarnya ku ragu akan titipan-Mu karena sering kali aku hanya
memikirkan apa yang aku inginkan daripada kebaikan ragaku ini.
*Impian
pertamaku, aku ingin sembuh Tuhan. Tetapi ma’afkan aku, jika suatu saat organ
ini tak lagi berfungsi, memang salahku yang tak sempurna menjaganya dan aku
mengerti, jika yang ku pertaruhkan ini bukan hanya sekedar raga dari-Mu,
melainkan nyawa yang juga bersemayam didalam ragaku. Tetapi adakah pendonor
yang akan mendonorkan satu ginjalnya untukku?
*Impian
keduaku, setelah aku sembuh, aku ingin buktikan pada semua insan jika aku bisa
membuat kedua orangtuaku tersenyum bahagia. Walau banyak keterbatasan
orangtuaku dan bahkan aku sendiri sering kali membuat mereka menangis jika rasa
sakit itu telah mulai menggerogoti tubuhku. Namun, setelah aku sembuh kelak,
janjiku ku padamu Tuhan, aku akan giat belajar supaya aku bisa kuliah di
Universitas impianku, ayah dan ibuku yaitu Universitas Pendidikan Indonesia.
Selain itu juga alasanku memilih Universitas itu, karena ayah seringkali
memotivasiku untuk menjadi guru yang kelak akan mengajar anak-anak kecil, dan
dari mengajar anak-anak kecil itulah aku bisa belajar memotivasi dan juga
mengumpulkan satu-persatu kebahagiaanku melalui kepolosan dan keceriaan mereka.
Hanya itu yang aku inginkan Tuhan. Wujudkan permohonanku ini. Aku mohon.
Akupun terlelap kembali setelah
setelah lama aku mengingat hal itu.
Dua
hari kemudian ...
Hari ini tepat tanggal 13 Juni 2012,
aku mengikuti ujian SNMPTN. Setelah mengikuti ujian tersebut aku langsung
pulang ke rumah.
Sebulan
berlalu ...
Aku bersyukur, ibu terlihat lebih
baik dari bulan lalu. Terlebih ketika dia menanyakan hasil ujian SNMPTNku bulan
lalu. Aku baru teringat jika hari ini pengumuman SNMPTN bisa dilihat.
Langsung
ku beranjak dari rumah menuju warnet yang jaraknya 2 km dari rumahku. Lorong
bambu yang biasa ku lewati masih tergenang air, aku lupa hal ini sehingga
sepatu sendal satu-satunya pemberian ayah basah kuyup.
Sesampainya
diwarnet, aku bahagia sekali ketika melihat hasil pengumuman tersebut.
Akhirnya aku lulus di Universitas impianku.
Liana
Putriliani
|
Selamat
Anda lulus di PGSD Universitas Pendidikan Indonesia
|
Aku
langsung berlari ke rumah. Tak ku hiraukan lagi percikan air membasahi pakaian dan sepatuku.
Ibu...
aku lulus, aku lulus Bu.”
Sedikit tangisan ibu terurai
dihadapanku. Ku usap satu-persatu tetesan air mata itu. Ku peluk erat tubuh
ibu. Beliau pun akhirnya tersenyum kepadaku.
Hari berikutnya akupun dapat masalah,
karena ternyata aku tidak terpilih sebagai anak beasiswa. Harapan itu luluh
sekejap. Aku menangisi hal yang tak mungkin ku capai dan aku pun mulai putus
asa. Akhirnya ku putuskan untuk mengunjungi ayah dengan tangis, dan membawa
harapan setelah ini aku bisa tersenyum kembali. Sesampainya aku disana ternyata
ibu telah dulu bertamu. Aku pun duduk disampingnya. Beliau menatapku dan
tiba-tiba beliau langsung memintaku untuk menutup mata sejenak.
“Nak,
buka matamu.”
“Ibu..
inikan botol kecil impianku.”
“Iya,
kamu pernah menuliskan dua impianmu didalam botol ini. Saat kamu tertidur, ayah
mengambilnya. Ketika ayah sedang sakit, beliau memberitahukan Ibu tentang ini
dan ayah mencoba mewujudkannya walau awalnya Ibu sangat tidak setuju tetapi
karena ayah tetap bersikeras akhirnya ibu mengalah. Namun kini kamu bisa
merasakannya.”
“Apa
maksud Ibu?”Tanyaku penasaran.
“Ayah sudah
terkena kanker hati semenjak dua tahun yang lalu. Ayah juga yang
paling
takut ketika dia mengetahui bahwa kamu mengidap penyakit gagal ginjal. Sekarang
kamu sudah mempunyai dua ginjal yang utuh dan sehat. Jaga baik-baik ya Nak.
Ayahlah yang mendonorkan satu ginjal untukmu.”
Aku mulai meneteskan air mata dihadapan
Ibu tanpa ragu, ditambah nafasku semakin turun naik tak menentu ketika aku baru
mengetahui siapa sebenarnya pendonor ginjalku. Belum sempat aku mengusap air
mataku, ibu langsung menjelaskan mengenai impian keduaku.
“Nak,
ayah dan ibu meminta ma’af jika kami seringkali secara tidak langsung membuatmu
putus asa karena keterbatasan kami untuk membiayai pendidikan dan pengobatanmu.
Namun sekali lagi kamu tidak usah khawatir, ayahmu sudah menitipkan hadiah
untukmu. Dia menukarkan satu ginjalnya lagi untuk biaya kuliah kamu Nak,
terlebih karena dokter telah memvonis jika usia almarhum tidak sampai sebulan
lagi. Karena kamu dia melakukan hal ini semua.”
Mendengar hal itu semua,
tangisanku semakin lepas dan nafasku semakin tak jelas. Ibupun meneteskan air
matanya juga dihadapanku, ku gempalkan tanganku dan memejamkan mata sambil
mengingat ayah. Lalu ibu memeluk erat tubuku dan mencoba menenangkanku.
Kini jasad Ayah telah tertanam
didalam tanah. Walaupun dihadapan aku hanya sepetak tanah dan berdiri sebuah
kayu yang bertuliskan nama ayah, namun aku masih merasakan kehadirannya. Terima
kasih Tuhan, terima kasih ayah akhirnya aku bisa kuliah di Universitas
impianku. Akan aku lakukan yang terbaik untuk dirimu, ayahku tersayang. Aku
berharap kelak jika aku telah menjadi guru, ayah bisa melihatku.
“Sepertinya
pertemuan itu tidak akan pernah terjadi diantara kita lagi yah. Tuhan mempunyai
rencana lain, rasanya sedih sekali karena salah satu harus berkorban namun aku
akan belajar ikhlas demi dirimu. Semoga ayah tenang disana. Aku akan selalu
mendo’akan ayah dan aku berharap ayah bahagia disana.”
“Ayo
Nak kita pulang udah sore. Ayahmu sudah tenang disana.”
“Selamat
tinggal ayah, selamat tinggal motivatorku.”
Langganan:
Postingan (Atom)